19 Desember 2002 — 5 menit baca

Restoran INDONESIA (Paris) Sebagai Duta Bangsa

Dalam rangka serangkaian kegiatan untuk memperingati HUT ke-20 Restoran INDONESIA (Paris), pada tanggal 18 Desember 2002 malam telah diselenggarakan pertemuan silaturahmi antara keluarga besar Restoran dengan keluarga besar KBRI di Paris. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang hangat ini berlangsung di ruangan bawah restoran. Selama pertemuan telah terdengar banyak gelak tertawa, tukar sapa yang akrab, banyak lelucon, di samping pembicaraan-pembicaraan serius di antara para peserta.

Di antara hadirin dalam pertemuan silaturahmi itu terdapat Wakil Dutabesar RI yang baru Ahzam Razif sebagai wakil Dutabesar Adian Silalahi yang berhalangan datang, Dutabesar Indonesia untuk Unesco Bambang Suhendra beserta pembantunya Jose Tavarez. Wakil Dutabesar Ahzam Razif didampingi oleh para pejabat inti KBRI di bidang politik , penerangan dan protokol beserta keluarga mereka masing-masing.

Dari fihak keluarga restoran hadir manager restoran Soeyoso dan wakil manager B. Santoso beserta istri, serta para pegawai restoran. Dalam kesempatan ini juga hadir Pascal LUTZ beserta istri (co-manager restoran selama 20 tahun , yang membantu restoran secara sukarelawan), Paulette Geraud (wanita Prancis, yang menjadi salah satu dari pendiri restoran), A. Umar Said ( juga salah satu dari pendiri, beserta istri). Rekan lainnya, JJ Kusni beserta istri (salah seorang di antara pendiri juga) hanya sempat hadir sebentar dalam pertemuan, karena kebetulan sedang bertugas untuk mengurusi para langganan restoran yang waktu itu memenuhi ruangan atas.

Perjalanan Panjang Restoran

Dalam pertemuan santai ini telah dihidangkan masakan-masakan khusus yang biasanya tidak disajikan dalam restoran. Berlainan dengan kebiasaan untuk pertemuan-pertemuan semacam ini, minuman untuk “toast” pun bukan champagne atau anggur Prancis, melainkan “wedang jahé”. Selama itu, sebentar-sebentar terdengar berbagai lagu-lagu Indonesia.

Dalam suasana yang demikian itulah secara berganti-ganti berbicara Suyoso, Pascal Lutz, A. Umar Said, Wakil Dutabesar RI Ahzam Razif, Dutabesar Indonesia untuk Unesco Bambang Suhendra, Yuli Mumpuni ( Bagian Penerangan KBRI), Andreas Sitepu (Bagian Protokol). Lagu-lagu Indonesia yang secara spontan dinyanyikan oleh peserta pertemuan (baik dari keluarga restoran maupun keluarga KBRI) menambah suasana “keakraban Indonesia” malam itu. Kehadiran secara spontan Ibaruri (anaknya D.N. Aidit, yang juga pernah bekerja di restoran) dalam pertemuan silaturahmi ini juga memberikan dimensi atau “isi” yang lain pada pertemuan itu.

Dalam menguraikan sejarah berdirinya Restoran Indonesia, Soeyoso menguraikan pengalaman-pengalaman usaha kolektif yang telah ditempuh selama 20 tahun, apa saja kegiatan yang dilakukan untuk mempromosikan Indonesia di kalangan masyarakat Prancis, dan apa arti restoran ini bagi berpuluh-puluh orang (bangsa Indonesia maupun bangsa-bangsa lain) yang pernah bekerja di dalamnya. Ia menegaskan bahwa melalui kerja keras, restoran sudah berhasil mncapai tujuannya, yaitu menciptakan kerja sendiri bagi sejumlah orang sambil memupuk persahabatan dan memperkenalkan Indonesia di kalangan masyarakat Prancis (uraian Soeyoso akan disajikan lebih lengkap dalam tulisan yang lain).

Pascal LUTZ, sebagai salah seorang di antara 4 orang Prancis yang ikut mendirikan Scop Fraternité/Restoran Indonesia, dengan panjang lebar menceritakan di depan pertemun persahabatan ini mengapa ia ia tertarik untuk membantu usaha kolektif ini sejak permulaan lahirnya gagasan untuk membuka restoran. Ia ingat kepada masa lalu ketika banyak teman-teman Indonesia yang datang ke Prancis untuk minta suaka politik tetapi tidak mempunyai pekerjaan. Diceritakannya bahwa kesediaannya untuk menjadi manager sukarela selama 20 tahun itu adalah karena dibimbing oleh keprihatinannya sebagai seorang humanis, dan sebagai seorang yang pernah aktif dalam berbagai gerakan (antara lain Amnesty Internasional, Freres des Hommes dll). Ia menyampaikan juga persoalan-persoalan yang pernah dihadapinya dalam “mengantar” atau menemani pertumbuhan dan perkembangan restoran koperatif ini, yang kadang-kadang tidak gampang. Diceritakannya juga bahwa dalam rapat pleno koperasi beberapa bulan yang lalu ia minta mengundurkan diri sebagai co-manager, sebab ia melihat bahwa perkembangan restoran sekarang ini sudah sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan partisipasinya lagi. Namun, ia masih akan tetap menjadi anggota koperasi, dan bersama-sama A. Umar Said menjadi anggota Dewan Penasehat restoran.

A. Umar Said juga menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan berbagai aspek tentang arti didirikannya restoran koperatif ini, yang selama ini sudah mendapat pujian atau respek dari berbagai kalangan di Prancis. Antara lain dari Mme Danielle MITTERRAND (istri alm. François MITTERRAND, mantan Presiden Prancis) dan Louis JOINET (penasehat hukum lima Perdana Menteri Prancis secara berturut-turut). Dikemukakan olehnya tentang keunikan sejarah adanya satu grup yang terdiri dari berbagai suku, agama dan kejuruan sudah berhasil selama 20 tahun mempertahankan usaha kolektif yang bernama Restoran Indonesia ini (tentang soal ini ada tulisan-tulisan tersendiri).

Membuka Halaman Baru

Dari pertemuan silaturahmi ini terasalah bagi banyak orang bahwa halaman-halaman baru memang sedang dibuka bersama-sama. Halaman-halaman baru ini diimungkinkan sejak jatuhnya Suharto dari kedudukannya sebagai presiden dan robohnya Orde Baru. Sebelum pertemuan silaturahmi dalam rangka HUT ke-20 Restoran Indonesia, memang Dutabesar RI untuk Prancis Adian Silalahi (beserta stafnya) sudah merintisya dengan dua kali berkunjung ke restoran, dan orang-orang restoran juga sudah berkali-kali datang ke KBRI. Namun, pertemuan silaturahmi kali ini bisa mempunyai arti yang berjangkau lebih jauh lagi, dan mengandung pesan penting bagi berbagai fihak, baik di Prancis sendiri, maupun yang di tanahair dan tempat-tempat lain di luarnegeri.

Jurusan yang menuju ke arah itu tercermin dalam sambutan-sambutan yang diucapkan oleh Wakil Dutabesar RI Ahzam Razif, Dutabesar Indonesia untuk Unesco Bambang Suhendra, Yuli Mumpuni (Bagian Penerangan), Andreas Sutepu (Protokol), dan juga ucapan-ucapan Munir A. Sunanda (Bagian Politik). Dalam sambutan-sambutan mereka itu dinyatakan penghargaan mereka terhadap apa yang telah dicapai oleh Restoran Indonesia selama ini dan juga peran positifnya dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Prancis lewat masakan-masakannya dan berbagai kegiatan lainnya. Mereka mengharapkan bahwa untuk selanjutnya dapat digalang kerjasama yang lebih erat, untuk mempromosikan Indonesia, antara lain lewat tourisme.

Semangat baru ini lebih jelas lagi tercermin dalam kalimat-kalimat yang ditulis dalam buku-tamu malam itu. Penanggungjawab bidang Penerangan KBRI, Yuli Mumpuni menulis :” Restoran Indonesia, selamat ulang tahun ke-20. Terimakasih atas kontribusi kongkrit dalam memperkenalkan Indonesia di Prancis. Restoran Indonesia benar-benar duta bangsa”. Sedangkan Andreas Sitepu (Bagian Protokol) menyatakan :” Dirgahayu, ulang tahun Restoran Indonesia ke-20, 14 Desember 2002. Tetap jaya sebagai duta bangsa untuk memperkenalkan Indonesia”.

Dengan adanya pertemuan yang mencerminkan pengkonsolidasian hubungan baik antara keluarga besar Restoran Indonesia dan keluarga KBRI ini dapatlah kiranya diharapkan bahwa kerjasama yang lebih erat dapat digalang lebih lanjut. Sebab, berdasarkan pengalaman dan kontak-kontak luas yang sudah dijalin dengan susah-payah dan tekun selama 20 tahun, Restoran Indonesia dapat dijadikan mitra bagi KBRI dalam menunaikan tugas bersama dalam berbagai bidang.

Dengan dibukanya halaman-halaman baru ini, maka pengalaman-pengalaman negatif di masa lalu bisa dinyatakan sebagai masa yang sudah lalu. Masa lalu yang patut menjadi pelajaran bagi semua fihak.