21 Februari 2006 — 10 menit baca

Mengapa benua Amerika Latin bergeser ke arah kiri

Sejak akhir tahun 2005 sampai akhir tahun 2006 peta politik benua Amerika Latin besar kemungkinan akan mengalami perubahan yang penting, dengan adanya pemilihan presiden yang diselenggarakan di 11 negara di benua ini. Perubahan penting yang akan terjadi dalam jangka waktu setahun ini adalah bahwa mungkin sekali tendensi pergeseran ke kiri di benua ini akan menjadi kenyataan. Inilah yang menjadi problem besar yang harus dihadapi oleh pemerintah AS dalam masa-masa yang akan datang.

Sebab, ini berarti bahwa Washington akan kehilangan pengaruh yang selama berpuluh-puluh tahun sudah dipupuk dengan segala cara dan jalan. Bergesernya benua Amerika Latin ke kiri akan membahayakan imperialisme AS, yang selama ini sudah menjadikan berbagai lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan maskapai-maskapai Amerika dan multinasional sebagai alat mengeduk keuntungan sebesar-besarnya di kawasan ini.

Sejak berakhirnya Perang Dunia ke-II, berbagai negeri di benua ini sudah mengalami banyak dan bermacam-macam gelombang politik yang berturut-turut dan silih berganti : timbulnya gerilya dan diktatur-diktatur militer dalam tahun-tahun 70-an, munculnya demokrasi dalam tahun-tahun 80-an, diperkenalkannya model neo-liberal dan globalisasi dalam tahun-tahun 90-an, dan yang terakhir pergeseran ke-kiri, seperti yang diperlihatkan secara pragmatis oleh presiden Brasilia Lula, atau yang secara populis dan revolusioner oleh presiden Venezuela Hugo Chavez.

Pada dewasa ini, dengan kadar yang berbeda-beda, dan juga dengan cara yang tidak sama - dari yang paling lunak sampai yang paling keras - politik kiri dan tengah-kiri sedang dianut oleh pemerintahan di Venezuela, Bolivia, Kuba, Panama, Argentina, Uruguay, Cili dan Brasilia. Yang patut diperhatikan di sini ialah bahwa para pemimpin negara-negara tersebut dipilih secara demokratis lewat pemilu, kecuali yang di Kuba yang mempunyai sejarah tersendiri.

Diselenggarakannya 11 pemilihan presiden dalam jangka 14 bulan, dengan jarak waktu yang berdekatan, diduga oleh banyak orang bahwa hasilnya akan bisa mempunyai pengaruh yang tidak kecil bagi yang satu kepada lainnya. Apalagi kalau diingat bahwa saluran informasi antar-negara dan penyebaran pendapat sekarang ini sudah makin cepat, makin canggih, dan makin banyak. Ditambah lagi adanya faktor Kuba, Venezuela, dan Bolivia, yang jelas-jelas menentang imperialisme AS secara keras.

Sekarang masih sulit diperkirakan untuk berbagai negeri di Amerika Latin sebesar apa dan sampai di mana pengaruh terpilihnya seorang perempuan sosialis bekas tapol Michelle Bachelet menjadi presiden di Cili, dan juga terpilihnya pemimpin gerakan petani Bolivia Evo Morales sebagai presiden sosialis di Bolivia. Tetapi, bagaimana pun juga, sudah dapat diramalkan bahwa pada akhir 2006 benua Amerika Latin sudah akan banyak berubah dari pada yang sekarang ini.

Pada permulaan Januari 2006 Michelle Bachelet dipilih (dengan 53,22% suara) sebagai presiden Cili, disusul oleh kemenenangan Evo Morales sebagai presiden Bolivia (dengan 54% suara). Wakil dari partai-partai kanan dan ultra-kanan, yang umumnya pro-Amerika dan disokong kalangan reaksioner dalamnegeri, dikalahkan oleh calon-calon yang berhaluan kiri atau tengah-kiri. Demikian juga, banyak kemungkinan bahwa dalam pemilihan presiden yang akan diadakan di Peru (9 April 06), di Kolombia (28 Mei 06), di Meksiko (2 Juli 06), di Brasilia (1 Oktober 06), di Ekuador (Oktober 06), di Nikaragua (5 November 06) dan di Venezuela (3 Desember 06), calon-calon presiden yang terangan-terangan pro-AS tidak akan terpilih oleh rakyat, kecuali yang di Kolombia. Untuk pemilihan di Kosta Rika (5 Februari 06) calon sosialis dikalahkan oleh calon Kristen-demokrat.

MENGAPA AMERIKA LATIN BERGESER KE KIRI

Sudah sejak lebih dari 20 tahun belakangan ini, nampak sekali bahwa benua Amerika Latin sudah meningggalkan atau menolak segala macam kekuasaan yang otoriter, atau diktatur-diktatur militer yang sering sekali dilahirkan oleh berbagai kudeta, yang umumnya dilancarkan oleh kaum reaksioner dalamnegeri dan bersekongkol dengan imperialisme AS. Sejak itu pula, benua ini dilanda oleh “angin populisme” atau “gelombang kiri”. Pada dewasa ini kira-kira 300 juta dari seluruh penduduk Amerika Latin yang berjumlah 350 juta, hidup di bawah berbagai pemerintahan demokratis yang boleh dikatakan “berwarna kiri” atau “berbau tengah-kiri”.

Dari survey yang diadakan baru-baru ini diadakan di 18 negara Amerika Latin, hanya setengah dari penduduk Amerika Latin yang betul-betul menganut faham sebagai demokrat. Banyak pengamat politik yang kuatir akan terjadinya pergeseran kawasan ini ke arah kiri, dan memperingatkan tentang munculnya gerakan-gerakan sosial dan partai-partai politik kiri dengan kekuatan yang tidak ada bandingannya dengan masa yang lalu (…warns that new social movements and leftists parties have reappeared with unparalleld strength - VOA 20/1/06).

Seorang pakar Amerika tentang Amerika Latin, Alvaro Vargas Llosa mengatakan “Populisme sudah datang kembali di Amerika Latin. Kita mengira bahwa sudah menanggalkan populisme ini akhir tahun 80-an dan permulaan 90-an, namun ia datang kembali dengan kekuatan penuh. Dan populisme ini akan menjadi komponen utama dari bidang politik dan ekonomi Amerika Latin dalam beberapa tahun yad (Populism is coming back to Latin America. We thought we had gotten rid of it at the end of the 1980s and early 1990s, but it’s coming back with force. And it is going to be a major component of Latin American politics and economics in the next few years - VOA 20/1/06).

Mark Weisbrot, pimpinan Center for Economic and Policy Researh di Washington mengatakan bahwa pergeseran ke kiri banyak negeri Amerika Latin adalah merupakan serangan-balasan atau pukulan-balik terhadap kegagalan berbagai reformasi ekonomi dan kebijakan yang dianjurkan oleh IMF dan Bank Dunia dalam tahun-tahun 1980-an. Menurutnya, pengalaman selama 25 tahun menunjukkan kegagalan yang tiada taranya dalam sejarah Amerika Latin. Selama itu kemajuan ekonomi hanya sedikit sekali. Sejak tahun 1980 pendapatan penduduk per capita meningkat hanya kira-kira 10%. Oleh karena itu, para calon presiden di Argentina, Brasilia, Venezuela, Uruguay, Ecuador, dan Bolivia baru-baru ini, semuanya menentang neo-liberalisme. Sekarang, para pemimpin populis ini terutama sekali menekankan diutamakannya egalitarisme (persamaan) sosial, dan tidak menghargai anjuran-anjuran yang diberikan oleh IMF dan pemerintah AS.

CITA-CITA BESAR SIMON BOLIVAR

Secara geo-politis benua Amerika Latin terdiri dari 21 negara besar dan kecil, yang terbentang antara sungai Rio Grande di Utara sampai Antartika di Selatan. Brasilia merupakan negara terbesar, baik dari segi wilayah maupun penduduk. Kira-kira 40% luas tanah Amerika Latin adalah wilayah negara Brasilia dan sepertiga penduduk benua ini adalah wargenegara Brasilia.

Sejak dijajah oleh kaum conquistador dari Spanyol sekitar tahun 1500, benua yang kaya ini telah menjadi ajang rebutan dan penjarahan berbagai bangsa Eropa, terutama bangsa Spanyol, dengan membunuhi secara besar-besaran penduduk asli suku Indian di banyak wilayah. Kekuasaan secara despotik ini berlangsung lama sekali, sampai kira-kira 300 tahun, ketika pecah perang pembebasan dari penjajahan Spanyol.

Tokoh besar dalam perjuangan untuk pembebasan dari penjajahan Spanyol ini adalah Simon Bolivar, yang juga dikenal dengan julukan “ el libertador” (pembebas). Simon Bolivar ini memimpin perang di wilayah yang sekarang dinamakan Venezuela, dan juga membebaskan Ekuador, Peru dan Bolivia. Perjuangan revolusioner untuk pembebasan ini berlangsung kira-kira selama 10 tahun.

Cita-cita Simon Bolivar pada wakltu itu adalah membangun United States of Latin America, yang meliputi wialayah dari sungai Rio Grande sampai Tierra del Fuego di dekat kutub Selatan. United States of Latin America ini bertujuan untuk melawan kolonialisme dan memberikan persamaan hak bagi semua orang, termasuk orang-orang Indian yang kulit berwarna dan kaum budak yang berkulit hitam. Tetapi, cita-citanya ini tidak terrealisasi, sampai wafatnya dalam tahun 1830. Sampai puluhan tahun terakhir ini, kaum reaksioner dan borjuasi besar kulit putih telah menghalangi terlaksananya cita-cita Simon Bolivar yang luhur ini.

KEBANGKITAN AMERIKA LATIN

Sejarah Amerika Latin beberapa ratus tahun sejak datangnya para penjajah Spanyol, dengan gamblang menunjukkan bahwa kaum penjajah ini sedikit sekali mendatangkan kemakmuran, kesehatan dan kebahagiaan kepada rakyat berbagai negeri benua ini. Segolongan kecil dari para penjajah yang berkulit putih ini selama ratusan tahun memegang kekuasaan pemerintahan dan tuan-tuan tanahnya menguasai lahan-lahan yang subur dan luas sekali. Penduduk aslinya, yang kebanyakan terdiri dari suku-suku Indian (dan budak-budak Negro) diusir dari tanah mereka, dan dipaksa hidup dalam gubuk-gubuk atau perumahan sederhana sekali, yang terdapat di daerah pedalaman dan pegunungan.

Ketika memasuki jaman modern, kalangan borjuasi besar dan feodal Spanyol ini berangsur-angsur menjalin hubungan ekonomi (dan politik) dengan neo-kolonialisme yang datang dari AS. Perusahaan-perusahaan besar Amerika, dengan dukungan dan bantuan penuh dari pemerintah AS menancapkan kakinya di berbagai negeri Amerika Latin. Sejak puluhan tahun belakangan ini, Amerika Latin menjadi “halaman belakang” AS atau wilayah pengaruh AS. Persekutuan antara berbagai kekuatan imperialis AS dengan kalangan borjuasi reaksioner dan feodal di berbagai negeri di benua ini, ternyata lebih kejam dan lebih tidak bermanusiawi dari pada kaum pendahulu mereka di masa yang silam.

Sebagai salah satu contoh yang menyolok tentang keadaan yang sangat menyedihkan di banyak negeri Amerika Latin adalah keadaan di Venezuela sebelum Hugo Chavez menjadi presiden sejak tahun 1998. Venezuela adalah negara yang kaya dengan minyak (dan penghasil minyak nomor lima di dunia). Tetapi kaum elite yang memegang kekuasaan politik dan ekonomi telah merampok kekayaan bumi Venezuela secara besar-besaran. Akibatnya, sebagian terbesar rakyatnya hidup sengsara. Kalangan atas yang merupakan 10% dari seluruh penduduk yang berjumlah 23 juta orang memiliki separoh dari pendapatan nasional. Kira-kira 40% dari penduduk hidup dalam kemiskinan total yang sangat parah. Apa yang terjadi di Venezuela juga terjadi di banyak negeri Amerika Latin lainnya, bahkan dalam bentuk yang lebih parah lagi.

Dengan latar belakang politik dan ekonomi yang demikian inilah berbagai negeri di Amerika Latin pada dewasa ini sedang mencari jalan baru menuju masyarakat yang lebih adil dan lebih makmur. Jalan lama, yaitu jalan kapitalis seperti yang dianjurkan oleh IMF, Bank Dunia, dan WTO, sudah pernah mereka tempuh bertahun-tahun. Dan hasilnya adalah yang serba negatif, dan serba lebih menyengsarakan rakyat. Berbagai negeri Amerika Latin ini sekarang sedang memandang ke “arah kiri”, dan berusaha menggalang bersama-sama persatuan atau persekutuan yang diinspirasikan oleh gagasan-gagasan besar Simon Bolivar.

Kebangkitan rakyat-rakyat berbagai negeri Amerika Latin, adalah fenomena penting dan bersejarah bagi situasi internasional ini, dalam melawan kekuatan imperiaslisme AS yang sekarang makin dimusuhi oleh banyak fihak di berbagai penjuru dunia. Sebagian dari kebangkitan ini diberi nama Revolusi Bolivarian, yang juga disebut sebagai sosialisme partisipatif, atau sosialisme demokratik.

Dalam proses kebangkitan rakyat-rakyat berbagai negeri Amerika Latin ini, peran yang dimainkan oleh presiden Venezuela menjadi makin penting dan juga makin menonjol sekali. Dalam banyak hal, peran yang dimainkan Hugo Chavez sudah melebihi peran Fidel Castro dari Kuba. Namun sosok Fidel Castro masih tetap disegani oleh banyak orang di Amerika Latin dan di bagian lain dari dunia.

Itulah sebabnya, mengapa kalangan yang berkuasa di Washington akhir-akhir ini makin menunjukkan sikap permusuhannya kepada Hugo Chavez. Mereka menganggap bahwa Hugo Chavez sekarang lebih berbahaya dari pada Fidel Castro, dan menjadi tokoh yang paling penting di Amerika Latin. Karena, Hugo Chavez, dan para pendukungnya, sudah menggunakan kekayaan minyak negara mereka untuk “mengekspor revolusi Bolivarian” ke berbagai negeri di benua ini.

Di samping itu, di bidang internasional, Hugo Chavez juga mengadakan kerjasama atau hubungan baik dengan negara-negara penting di dunia, seperti India, RRT dan Rusia. Tetapi yang paling tidak disenangi AS adalah bahwa Venezuela menjalin persahabatan dengan fihak-fihak yang menjadi “musuh” AS, seperti Kuba, Iran, Siria (dan baru-baru ini juga dengan Hamas di Palestina). Semua ini membikin Hugo Chavez sebagai tokoh kiri yang harus dijatuhkan atau dihancurkan oleh imperialisme AS.

Tetapi, situasi internasional dewasa ini sudah jauh berlainan sekali dengan situasi dalam tahun 1965, ketika Bung Karno di kudeta oleh Suharto dan kawan-kawannya di Angkatan Darat. Karena itu, bagi imperialisme AS tidak mudah untuk membendung pergeseran ke kiri yang sedang ditempuh oleh berbagai negeri di Amerika Latin. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.