26 Oktober 2003 — 14 menit baca

Kalau umur sudah 75 tahun

Tanggal 26 Oktober 2003 adalah hari ulangtahun saya yang ke 75. Sudah tentu, saya tidak bisa meramalkan berapa tahun lagi saya akan bisa hidup. Apa saja yang bisa saya kerjakan selanjutnya? Dalam keadaan sudah pensiun, dan umur yang lebih dari 75 tahun ini, sudah tentu tidak banyak lagi yang bisa saya kerjakan seperti ketika masih muda.

Sekarang, saya merasa bahwa perjalanan hidup saya memang tidak sia-sia. Bahkan, ada bagian-bagian hidup saya yang merupakan kebanggaan, karena saya rasakan ada gunanya, baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain.

Ketika masih umur 17 tahun, saya ikut dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dan dalam suasana revolusi yang bergejolak di waktu itu, saya termasuk dalam rombongan pemuda yang dikirim oleh Kementerian Dalam Negeri untuk mengunjungi Sumatera Selatan. Rupanya, pengalaman selama pertempuran di Surabaia dalam tahun 1945 ini, memberikan pengaruh atau dampak yang besar sekali terhadap hidup saya di kemudian hari.

Sebagian terbesar dari hidup yang penuh dengan pengalaman yang macam-macam itu saya lalui dengan menceburkan diri dalam kegiatan yang berhubungan dengan lapangan jurnalistik atau kewartawanan. Dengan diselingi 7 tahun selama bekerja di Kementerian Pertanian Perancis dan 4 tahun di Restoran INDONESIA di Paris, pekerjaan atau kegiatan saya yang utama adalah di bidang kewartawanan atau dunia tulis-menulis.

Tetapi, di samping kegiatan hidup sebagai wartawan, saya juga melakukan berbagai kegiatan lainnya, yang berhubungan erat dengan perkembangan situasi politik. Umpamanya, ketika bekerja di suratkabar Indonesia Raya (1950-1953) saya mulai berhubungan dengan SOBSI (organisasi buruh). Perjalanan ke luarnegeri yang pertama kali saya lakukan ketika menjadi penterjemah untuk delegasi Indonesia ke Konferensi Internasional Hak-hak Pemuda di Wina dalam tahun1953. Perjalanan ke Eropa Barat ini terjadi 8 tahun sesudah Perang Dunia ke-2 berakhir. Saya masih ingat bahwa untuk terbang dari Jakarta menuju Zurich (Swiss) saja harus menempuh 7 hari (dengan pesawat KLM, dengan stop-over dan menginap di Bangkok, Calcutta, Cairo). Waktu itu dalam kota Wina masih banyak ditemukan gedung-gedung yang hancur, sisa-sisa kerusakan perang.

Perjalanan ke Eropa ini disambung dengan kunjungan yang amat bersejarah bagi kehidupan saya, yaitu ke Republik Rakyat Tiongkok. Dalam tahun 1953 itu juga saya, bersama Suryono Hamzah (wakil Pemuda Rakyat), diundang oleh Gabungan Pemuda Seluruh Tiongkok untuk berkunjung ke Tiongkok. Kunjungan ke Tiongkok ini, yang terjadi ketika RRT baru diproklamasikan 4 tahun (dalam 1949), amat besar pengaruhnya dalam fikiran saya. Waktu itu Tian An Men masih merupakan lapangan yang kecil. Perang Korea baru saja selesai. Saya waktu itu mulai melihat, dengan mata kepala sendiri, arti besarnya revolusi Tongkok. Kunjungan ke RRT ini tidak sedikit membuka fikiran saya mengenai masalah-masalah internasional pada waktu itu.

Sekembali saya dari perjalanan ke Eropa dan Tiongkok kegiatan saya sebagai wartawan saya teruskan di Harian Rakyat (1953-1956), yang waktu itu dipimpin oleh Nyoto dan Naibaho. Pada masa itulah saya mendapat tugas yang menjadi kebanggaan sampai sekarang, yaitu meliput (membikin reportase) tentang Konferensi A-A di Bandung (1955) yang bersejarah dan menggegerkan dunia itu. Saya menyaksikan, dari dekat, betapa populernya Bung Karno, Chou En-lai, Ho Chi Min, Gamal Abdul Nasser, dan Jawaharlal Nehru pada waktu itu.

Pengalaman yang sampai sekarang menjadi kenang-kenangan yang berharga adalah ketika menjadi Pemimpin Redaksi Harian Penerangan di Padang (1956-1960). Sebab, untuk memimpin sebuah harian yang pro-pemerintah pusat di “sarang” pembrontakan PRRI tidaklah mudah. Sebagai orang “pendatang” di Tanah Minang saya belajar banyak bagaimana harus pandai-pandai menyesuaikan diri pada alam sekeliling yang tidak bersahabat (secara politik). Patut diingat bahwa Sumatera Barat pada waktu itu adalah daerah yang dikuasai Masyumi-PSI yang menyokong pembrontakan PRRI.

Kehidupan saya mulai makin sibuk ketika pindah ke Jakarta (dari Padang) dalam tahun 1960 untuk memimpin Harian EKONOMI NASIONAL. Dalam tahun 1962 saya termasuk sebagai anggota delegasi Indonesia dalam kongres International Organisation of Journalists (IOJ) di Budapest. Dalam tahun 1962 itulah saya (bersama almarhum bung S. Tahsin dari Bintang Timur) untuk kedua kalinya berkunjung ke Tiongkok. Kami diundang oleh Persatuan Wartawan Seluruh Tiongkok (All China Journalists Association) untuk membicarakan persiapan Konferensi Wartawan Asia-Afrika yang diselenggarakan di Jakarta dalam tahun 1963.

Kegiatan sehari-hari sebagai pemimpin redaksi Harian EKONOMI NASIONAL terpaksa bertambah dengan diselenggarakannya Konferensi Wartawan Asia-Afrika (KWAA). Saya dipilih oleh teman-teman wartawan menjadi Bendahara Panitia konferensi internasional ini. Setelah Persatuan Wartawan Asia-Afrika terbentuk di Jakarta, saya diangkat menjadi Bandaharanya. Kesibukan sehari-hari makin bertambah lagi ketika dalam kongres PWI dalam tahun 1963 saya dipîlih sebagai Bendahara PWI Pusat (di bawah pimpinan Bung Karim DP, yang setelah terjadi G30S ditahan sebagai tapol dalam jangka yang lama sekali).

Rupanya, kegiatan saya sebagai Bendahara PWAA, yang juga sebagai Bendahara PWI Pusat dianggap oleh banyak fihak cukup baik, sehingga ketika akan diadakan Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Jakarta saya dipilih sebagai Bendaharanya juga (dengan wakil saya almarhum Ridwan Bazar). Saya tidak dapat sepenuhnya melakukan tugas sebagai Bendahara KIAPMA, karena pada tanggal 14 September 1965 saya bersama Francisca Fangiday harus meninggalkan Jakarta menuju Santiago ( Chili) untuk mengikuti konferensi International Organisation of Journalists (IOJ). Akhirnya, tanpa saya hadiri, KIAPMA diselenggarakan juga di Jakarta (di Hotel Indonesia) dalam bulan Oktober 1965 dengan dibuka oleh Bung Karno dalam situasi yang tegang dan kacau, karena terjadinya G30S.

Karena terjadinya G30S, maka saya tidak bisa kembali ke Indonesia. Harian EKONOMI NASIONAL ditutup oleh pimpinan militer, dan anggota redaksinya ditangkapi. Ketua PWI Pusat (KARIM DP, pemimpin redaksi harian Warta Bhakti ) dan sekjennya (Satya Graha, pemimpin redaksi Suluh Indonesia) juga ditangkap. PWAA, di mana saya menjabat Bendaharanya (dan Jusuf Isak sebagai sekjennya, yang juga ditangkap) akhirnya harus dipindah ke Peking.

Karena tidak bisa kembali ke Jakarta, maka kemudian saya menggabungkan diri kepada Sekretariat PWAA yang sudah dipindah ke Peking sejak 1966, untuk menjabat sebagai kepala sekretariat di bawah pimpinan Bung Djawoto sebagai sekjen. Dengan terjadinya G30S, maka kegiatan saya sebagai wartawan pendukung politik Bung Karno terpaksa mengalami perobahan yang drastis. Sebelum terjadi G3OS, kegiatan saya lewat Harian EKONOMI NASIONAL, PWAA dan PWI Pusat adalah mendukung secara aktif politik Bung Karno, yang mencerminkan secara menonjol perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme (terutama Amerika Serikat).

Kalau mengingat kembali segala kegiatan selama masa itu, maka saya merasa bahwa sejak 1962 kegiatan saya di bidang internasional untuk mendukung politik Bung Karno cukup sibuk dan memberikan kesan mendalam, sampai sekarang. Dalam periode inilah saya sering sekali pergi ke luarnegeri (paling sedikit dua kali dalam setahun), untuk mengunjungi berbagai negeri Asia dan Afrika.

Kalau dihitung secara kasar dan dilihat secara garis besar, bisalah kiranya dikatakan bahwa separoh umur saya (yang sekarang mencapai 75 tahun itu) telah saya lalui dengan berbagai kegiatan di tanah-air untuk membela Republik Indonesia dan mendukung politik Bung Karno. Dengan bangga saya bisa menyatakan diri bahwa saya memihak golongan “kiri” dalam perjuangan besar ini.

Saya mendukung politik Bung Karno bukan hanya karena pernah ikut beberapa kali dalam rombongan resmi beliau (antara lain perjalanan ke Manila –Pnompenh-Tokio, dan perjalanan lewat Paris) tetapi karena yakin bahwa berbagai pandangan politik Bung Karno yang dianutnya sejak tahun 20-an itu adalah benar. (Kebenaran berbagai politik Bung Karno yang anti-imperialis dan anti-kolonialisme dalam segala bentuknya itu ternyata masih relevan untuk dipakai dalam menghadapi situasi internasional dan nasional negeri kita dewasa ini).

Demikianlah saya lalui separoh pertama dari hidup saya, yang secara langsung berhubungan erat dengan perkembangan situasi di tanah-air (sampai 1965). Sedangkan separoh kedua dari hidup saya berlangsung di luarnegeri, karena terpaksa tinggal di Tiongkok selama 7 tahun dan selebihnya di Perancis, sampai sekarang.

Seperti banyak orang lainnya, walaupun separoh kedua dari hidup saya terpaksa saya lalui di luarnegeri, tetapi hati dan fikiran saya masih terus tetap terikat erat dengan apa yang terjadi di tanah-air.

Apa ada sesuatu yang patut ditulis dan direnungkan mengenai separoh kedua dari hidup saya, yang terpaksa saya lalui dengan tinggal di luarnegeri sejak 1966? Dan apa saja yang sudah terjadi dalam periode ini? Ada cukup banyak pengalaman saya yang patut jadi kenang-kenangan selama periode ini.

Karena terjadinya G30S, maka saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Kalau saya kembali pastilah saya juga ditangkap (atau dibunuh) seperti banyak wartawan Indonesia lainnya. Apalagi kedudukan saya sebagai pemimpin redaksi Harian EKONOMI NASIONAL, dan sebagai Bendahara PWI Pusat, Bendahara PWAA dan Bendahara KIAPMA, cukup merupakan dalih atau alasan bagi Suharto dkk untuk “melibas” saya.

Karena itu, saya merasa senang sekali dapat bergabung dengan Sekretariat PWAA setelah kantor sekretariat ini dipindahkan dari Jakarta ke Peking. Karena, lewat sekretariatnya di Peking inilah kami dapat melakukan berbagai kegiatan untuk melawan rezim militer Suharto dkk. Dalam jangka waktu cukup lama PWAA telah menjadi alat dan saluran bagi kami dalam mengutuk kebengisan rezim Suharto terhadap golongan kiri di Indonesia dan terhadap Presiden Sukarno.

Dilancarkannya mulai 1966 RBKP (Revolusi Besar Kebudayaan Proletar) di seluruh Tiongkok memberikan pengalaman dan pelajaran berharga bagi kami semua yang terpaksa tinggal di Tiongkok. Kehidupan kami sebagai “tamu asing” selama RBKP ini menjadi tidak normal dan akhirnya banyak yang meninggalkan Tiongkok .

Saya sendiri meninggalkan Tiongkok dalam tahun 1974 untuk kemudian minta suaka politik di Prancis. Dari Prancis inilah saya bisa melakukan ‘kiprah” saya dalam berbagai kegiatan, antara lain untuk membantu kedatangan berbagai teman Indonesia lainnya yang tadinya tinggal di Tiongkok, Uni Soviet, Albania dll. Mereka ini ada yang kemudian menetap di Prancis, di Holland, di Jerman Barat, di Swedia. Ada berbagai pengalaman yang menarik mengenai bagaimana saya membantu kedatangan sejumlah teman-teman ini.

“Kiprah” dalam berbagai kegiatan itu dapat saya lakukan setelah permintaan suaka politik saya disetujui oleh pemerintah Prancis dan saya dapat bekerja sebagai pegawai dalam suatu badan di bawah Kementerian Pertanian Prancis. Dalam rangka “kiprah” ini pulalah saya menemui Jose Ramos Horta , dalam tahun 1976 , beberapa bulan setelah rezim militer Suharto menyerang dan menduduki Timor Timur. Pertemuan ini disusul dengan diselenggarakannya rapat besar soal Timor Timur di Paris, dan kemudian didirikannya ASTO (assosiasi untuk setiakawan dengan rakyat Timor Timur), yang merupakan salah satu di antara yang paling tua dari banyak Komite Timor di dunia. Komite Timor Timur (ASTO) ini sampai sekarang masih aktif dengan berbagai projek pembangunan di Timor Timur.

Di antara kegiatan dalam rangka “kiprah” ini ialah ketika saya merintis jalan dan memelopori berdirinya Restoran koperasi “INDONESIA” di Paris dalam bulan Desember 1982. Restoran koperasi ini, yang didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kerja bagi teman-teman Indonesia yang minta suaka politik di Prancis, tahun yang lalu merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-20. Selama empat tahun saya bekerja mengantar kelahiran restoran ini, yang pernah menjadi tempat bernaung bagi puluhan orang Indonesia (dan non-Indonesia). Restoran ini menjadi terkenal sekali di Paris, sehingga dalam jangka yang lama sekali (18 tahun) KBRI dan pemerintah di Jakarta menganggap restoran ini sebagai duri dan memboikotnya.

Ketika umur sudah mencapai 75 tahun, dan melihat restoran ini berjalan baik berkat keuletan kerja teman-teman, maka ada perasaan bangga pada diri saya. Hasil jerih payah yang saya curahkan ketika masih berumur sekitar 55 tahun, bersama teman-teman lainnya, sampai sekarang masih kelihatan tegak berdiri. Banyak teman Indonesia yang memandang Restoran Indonesia di Paris sebagai “monumen”. Saya merasa syukur, bahwa meskipun sudah tidak bekerja di restoran lagi, saya masih tetap menjadi anggota koperasi. Bahkan orang menganggap saya sebagai “sesepuh”-nya.

Dari separoh kedua umur saya, yang menjadi kebanggaan saya ialah ketika saya menerbitkan majalah ekonomi dalam bahasa Prancis di Paris. Majalah bulanan ini bernama Chine Express; suatu penerbitan yang ditujukan kepada kalangan pengusaha Prancis yang ingin berhubungan dagang dengan Tiongkok. Saya merasa bangga bahwa sebagai wartawan yang berasal dari Indonesia, saya ( harap perhatikan : SEORANG DIRI !) bisa menerbitkan majalah dalam bahasa Perancis di Paris untuk kalangan pengusaha Prancis. Kegiatan jurnalistik yang boleh dikatakan “kerja gila-gilaan” ini saya lakukan selama 10 tahun. Selama 10 tahun itulah saya menjadi direkturnya, pemimpin redaksinya, wartawannya, tukang ketiknya, korektornya, dan tukang opmaaknya sekaligus.

Bahwa saya dapat mempertahankan hidupnya majalah Chine Express sampai 10 tahun adalah karena cinta saya keoada profesi saya yang asli, yaitu jurnalistik. Walaupun sering terpaksa bekerja sampai malam, dan walaupun secara finansial tidak mendatangkan uang banyak, tetapi karena cinta kepada profesi inilah yang mendorong saya untuk bertahan sampai begitu lama. Sudah tentu, banyak kesulitan yang harus dihadapi untuk bisa menerbitkan –secara teratur – majalah bulanan yang terdiri dari 50 halaman lebih.

Kegiatan profesional dengan menerbitkan majalah Chine Express ini saya hentikan mulai Desemebr tahun 1997 karena saya memutuskan diri untuk pensiun. Keputusan untuk pensiun ini atas anjuran istri saya, yang melihat betapa sibuknya dan susah payahnya hidup saya dengan menerbitkan majalah bulanan dalam bahasa Prancis ini. Dan memang, ketika umur sudah sekitar 70 tahun, sudah bukan waktunya lagi untuk terus membanting tulang secara “gila-gilaan”.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa selama saya menerbitkan majalah Chine Express berbagai kegiatan politik saya yang berkaitan dengan perjuangan melawan rezim militer Suharto/Orde Baru tidak pernah saya hentikan. Saya terus menjadi anggota aktif Komite Timor, dan mengadakan berbagai kerjasama dengan teman-teman Perancis dalam aksi-aksi untuk memblejedi Orde Baru.

Hubungan saya dengan organisasinya Mme Danielle MITTERRAND (France Libertes) memungkinkan terjalinnya hubungan kerjasama France Libertes dengan berbagai organisasi di Indonesia, terutama YPKP yang waktu itu dipimpin oleh almarhumah Ibu Sulami. Atas undangan Mme Danielle MITTERAND ibu Sulami pernah berkunjung ke Paris untuk mengadakan hubungan dengan berbagai organisasi Prancis dalam rangka kampanye mengenai korban Orde Baru.

Ketika Mme Danielle MITTERRAND dan rombongannya mengunjungi Indonesia dan menjadi tamu YPKP (dalam tahun 2000) saya ikut mempersiapkan kunjungan yang bersejarah bagi banyak eks-tapol beserta keluarga mereka ini. Sebagai anggota rombongan yang terdiri dari lima orang, saya ikut menyiapkan pertemuan Presiden Abdurrahman Wahid dan Mme Danielle MITTERRAND di Istana Negara di Jakarta. Kunjungan Mme Danielle MITTERRAND ke Jogja dan tempat pembantaian besar-besaran dalam tahun 1965 merupakan kenang-kenangan bagi banyak orang di Jawa Tengah.

Setelah saya pensiun dari kegiatan jurnalistik, ada lebih banyak waktu untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perjuangan melawan sisa-sisa Orde Baru. Saya perlukan untuk setiap tahun berkunjung ke Indonesia, untuk mengadakan kontak-kontak atau kerjasama dengan berbagai organisasi dan perseorangan. Di antara organisasi-organisasi yang saya hubungi di Indonesia adalah Pakorba, LPR KROB, YPKP, LPKP, SNB, di samping organisasi-organisasi yang bergerak di lapangan politik.

Sebagai orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Paris (sejak 1974) , saya sering diminta oleh berbagai teman atau organisasi Prancis untuk melakukan berbagai kegiatan tentang Indonesia. Di antara organisasi-organisasi itu terdapat Comite pour la Democratie en Indonesie (CDI), Pasar Malam, dan tadinya ADIL (sudah tidak aktif lagi). Ketika bung Pramudya Ananta Toer dan bung Jusuf Isak berkunjung ke Eropa dan mengunjungi Paris saya ikut dalam pengorganisasian kunjungan itu.

Salah satu pengalaman yang cukup mengesankan sejak pensiun adalah kehadiran saya dalam perayaan Hari Kemerdekaan Timor Lorosae dalam tahun 2002 di Dili. Sebagai anggota delegasi ASTO, saya bersama dua teman Prancis mendapat kehormatan untuk ikut merayakan kelahiran Republik Timor Lorosae ini, yang juga dihadiri oleh Sekjen PBB Kofi Annan dan Presiden Megawati. Pada kesempatan yang bersejarah inilah saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama seperti Mari Alketiri, Jose Ramos Horta, Roque Rodrigues, Rogerio Lobato, yang saya kenal dari dekat melalui kegiatan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan dan melawan agresi tentara Indonesia.

Itulah sebagian kecil dari kejadian-kejadian yang saya anggap penting untuk dikenang sebagai bagian hidup saya yang sudah berumur 75 tahun ini. Tetapi, sebagian kecil dari hal-hal yang sudah disajikan itu saja sudah bisa meyakinkan diri saya sendiri bahwa kehidupan saya, baik yang selama di tanah-air sebelum 1965 maupun yang di luarnegeri, cukup “berisi”. Saya bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa hidup saya tidaklah sia-sia.

Sekarang, ketika umur sudah melebihi 75 tahun, saya masih ingin berbuat sesuatu - bahkan sebanyak mungkin - dalam perjuangan bersama untuk menegakkan demokrasi dan HAM di Indonesia. Karena kondisi fisik yang makin menurun juga, maka saya tidak bisa lagi “kiprah” seperti yang sudah-sudah ketika masih muda.

Di samping melakukan berbagai kegiatan, bersama-sama semua kalangan yang melawan sisa-sisa Orde Baru, kegiatan utama saya adalah dalam bidang tulis-menulis lewat Internet. Dengan adanya website A. Umar Said, saya mempunyai alat komunikasi yang memadai untuk sewaktu-waktu menyampaikan fikiran-fikiran saya mengenai berbagai masalah. Sambutan yang cukup besar dari pembaca terhadap website ini, (sampai sekarang, sejak setahun yang lalu, sudah dibuka lebih dari 10 000 kali oleh pembaca yang tinggal di 38 negeri di dunia).

Dengan begitu, kehidupan sebagai wartawan, yang sudah saya mulai sejak tahun 1950 (dengan kerja di harian Indonesia Raya 50 tahun yang lalu) dapat saya pertahankan, walaupun dalam status sebagai pensiunan. Saya berharap bahwa umur yang melampaui 75 tahun bukanlah merupakan halangan bagi saya untuk terus berkarya, walaupun secara terbatas.