31 July 2001 — 11 menit baca

Jangan jelek-jelekkan terus Orde Baru?

Kita semua sekarang ini sedang menunggu-nunggu, dengan berbagai pertanyaan dalam fikiran, dan beraneka perasaan dalam hati, tentang perspektif situasi negara dan bangsa kita, sesudah naiknya Megawati sebagai presiden dan Hamzah Haz sebagai wakil-presiden. Dan, memang, banyak soal yang masih belum jelas bagi kita semua, untuk bisa mereka-reka tentang apa saja yang akan terjadi di kemudian hari, bahkan dalam waktu dekat ini. Nalar yang sehat, dan hati nurani yang bersih tentunya mengharapkan semoga rakyat yang jumlahnya nomor 4 di dunia ini, akan mulai bisa keluar dari trowongan gelap yang penuh dengan persoalan-persoalan besar yang sudah menumpuk selama lebih dari 32 tahun.

Apakah negara dan bangsa kita sejak sekarang ini sedang melangkah menuju era yang lebih baik dari pada yang telah dilalui selama beberapa puluh tahun ini ? Banyak faktor yang akan menentukannya, baik faktor dalamnegeri, maupun internasional dan regional. Sejak jatuhnya regime militer Suharto, telah terjadi perobahan-perobahan penting, walaupun sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih kuat dimana-mana, dan masih terus memainkan peran yang merusak, terutama dibidang moral, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Namun, perobahan-perobahan pasca-Suharto dalam masyarakat di Indonesia – betapa pun kecilnya - , dan juga situasi internasional sesudah selesainya Perang Dingin, merupakan faktor-faktor yang tidak memungkinkan kembalinya masa gelap Orde Baru seratus persen. Tendensi internasional untuk menghargai Hak Azasi Manusia, dan gerakan-gerakan internasional untuk menentang efek-efek negatif dari globalisasi dalam sistem perekonomian dunia dan menentang impunity (kekebalan hukum) juga merupakan faktor yang tidak bisa diremehkan lagi di Indonesia.

Sekarang, banyak orang menyatakan kekhawatiran mereka bahwa dengan naiknya Megawati sebagai presiden, maka sisa-sisa kekuatan Orba menjadi tambah kuat. Kekhawatiran ini ada dasarnya, mengingat begitu besarnya dukungan sisa-sisa kekuatan Orba (yang mengenakan beraneka-ragam bulu) kepada lawan-lawan politik Gus Dur, yang memuncak dengan diselenggarakannya Sidang Istimewa MPR. Sidang Istimewa MPR inilah yang mengangkat Megawati dan Hamzah Haz di pucuk pimpinan negara sekarang ini. Terpilihnya Hamzah Haz sebagai wakil-presiden telah menimbulkan berbagai reaksi di berbagai golongan. Ada yang menganggap bahwa dalam konstelasi peta politik dan imbangan kekuatan dewasa ini, di antara calon-calon yang mengajukan diri sebagai wakil-presiden (Akbar Tanjung, Susilo BY, Agum Gumelar, Siswono) maka Hamzah Haz adalah pilihan yang terbaik dari keseluruhan yang jelek. Apakah memang demikian? Perjalanan waktu - dan mungkin tidak lama lagi (!) – akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini secara lebih jelas. Namun, sejak sekarang pun, kita semua sudah bisa mulai mengamati (dan menilai) siapa dan apa sebenarnya Hamzah Haz ini, yang sekarang menjadi wakil-presiden RI kita.

Pernyataan yang membuka-diri

Untuk kali ini, adalah amat penting bagi kita semua untuk menyimak dengan serius, berita yang disiarkan oleh Astaga.com (28 Juli 2001), yang kutipannya sebagai berikut : Di saat-saat hujatan terhadap Orde Baru marak, Wakil Presiden Hamzah Haz malah menyebutkan dirinya juga merupakan bagian dari Orde Baru. “Saya juga dahulu Orde Baru. Namun kemudian dipinggirkan. PDIP juga dipinggirkan. Namun sekarang keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden,” kata Hamzah. Wapres ke-9 RI ini mengajak masyarakat untuk tidak terus menjelek-jelekkan Orde Baru, karena yang salah adalah orangnya bukan Orde Baru itu. Kita jangan menjelek-jelekkan Orde Baru saja, karena Orde Baru lahir sebab Orde Lama menyimpang dari perjuangan dan komunis hampir saja berkuasa,” kata Hamzah pada acara syukuran terpilihnya dia sebagai wakil Presiden di Jakarta, Sabtu.

Pada masa Orde Lama itu, banyak ulama yang dibunuh misalnya dengan dipotong lehernya. Sementara itu, banyak jenderal khususnya dari TNI-AD yang dibunuh pula. Wapres mengatakan, tidak semua aparat Orde Baru yang jelek atau patut dipersalahkan karena ada yang masih baik. “Yang baik ada misalnya Pak Baharuddin Lopa,” kata Wakil Presiden. Wapres yang masih menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengemukakan “ Saya sering berkeliling dan mendengar orang berkata bahwa Orde Baru lebih baik daripada era reformasi karena bisa bekerja”. Dia juga mengatakan, banyak orang yang tidak takut terhadap aparat TNI dan Polri, padahal sikap itu merupakan hal yang salah. “ Kok ada orang yang tidak takut pada aparat. Kalau begitu, apa jadinya,” kata Wakil Presiden. (Antara)

(Catatan penulis : Berita ini juga disiarkan oleh Suara Merdeka tanggal 28/7, Jakarta Post tanggal 28/7. Adalah amat penting, kalau bisa diperoleh teks yang lebih lengkap tentang pidato Hamzah Haz ini, sebagai dokumen yang sangat berguna untuk melengkapi bahan-bahan mengenai sikap politiknya yang bersangkutan dengan masalah-masalah penting bangsa dan negara. Sebab, apa yang dikemukakan oleh Hamzah Haz seperti tersebut di atas, kelihatan sarat dengan hal-hal yang bisa mempunyai dampak yang besar dalam perjalanan pemerintahan Megawati-Hamzah di masa yang akan datang Sebagian dari alasan-alasannya, yang dapat kita pertimbangkan bersama, adalah seperti yang berikut di bawah ini.)

Pandangan hamzah haz tentang orde baru

“Saya juga dahulu Orde Baru. Namun kemudian dipinggirkan. PDIP juga dipinggirkan. Namun kemudian sekarang keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden”, kata Hamzah. Ungkapan ini bisa memberikan kesan yang menyesatkan banyak orang. Bahwa Hamzah dahulu Orde Baru adalah sesuatu yang memang sudah diketahui oleh banyak orang sejak lama, ketika ia sudah aktif dalam PPP (walaupun ia juga seorang “pengikut” NU, resminya). Selama sekitar 30 tahun ia telah berkecimpung dalam politik, dan menjadi anggota DPR. Dan kita semua masih ingat dengan jelas bahwa selama Orde Baru, DPR pada hakekatnya hanyalah tukang stempel dan pendukung setia politik Orde Baru. Apakah Hamzah Haz selama masa Orde Baru telah sungguh-sungguh dipinggirkan, adalah satu hal yang patut diragukan, dan karenanya perlu diteliti bersama-sama lebih lanjut kebenarannya.

Kesan yang ingin disajikan olehnya kepada opini umum bahwa ia telah dipinggirkan oleh Orde Baru, sederajat dan sepenanggungan dengan PDIP, sangatlah menyesatkan sekali. Bahwa PDI-P telah dipinggirkan oleh Orde Baru adalah jelas. Kasus penyerbuan kantor PDI-P di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 merupakan salah satu di antara contoh-contoh lainnya yang juga gamblang bagi banyak orang (umpamanya : rekayasa kongres PDI di Medan, dukungan oleh Orba kepada PDI Suryadi). Jadi, ketika Hamzah Haz menyama-ratakan dirinya dengan “dipinggirkannya” PDI-P adalah suatu usaha untuk mengelabui mata banyak orang. Apalagi, ditambah dengan kalimat “Namun kemudian sekarang keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden”.

Pandangan politik Hamzah Haz tentang Orde Baru ini merupakan sesuatu yang, untuk selanjutnya, patut dijadikan objek pengamatan yang serius bagi banyak kalangan : para pakar, para aktifis Ornop atau gerakan-gerakan rakyat lainnya. Seperti yang diberitakan dalam pers, wakil-presiden kita ini “mengajak masyarakat untuk tidak terus menjelek-jelekkan Orde Baru, karena yang salah adalah orangnya, bukan Orde Baru itu. Kita jangan menjelek-jelekkan Orde Baru saja, karena Orde Baru lahir sebab Orde Lama menyimpang dari perjuangan dan komunis hampir saja berkuasa”, ungkapnya.. Sungguh (!), satu pendapat yang bisa menimbulkan serentetan pertanyaan : siapakah sebenarnya Hamzah Haz ini ? Sampai sejauh manakah ia pernah “terlibat” Orde Baru? Apa sajakah maksudnya yang sebenarnya dengan menganjurkan masyarakat jangan menjelek-jelekkan terus Orde Baru? Mengapa ia berani mengatakan bahwa Orde Baru tidak salah?

Pernyataan Hamzah Haz bahwa Orde Baru tidak salah dan hanya “orang-orangnya” saja yang salah, perlu dijadikan perdebatan yang serius dan luas, sebagai sarana untuk pendidikan politik masyarakat luas. Sekaligus juga untuk melakukan perlawanan politik terhadap “tokoh nasional” ini. Sebab, kalau ia dibiarkan terus saja membela Orde Baru, baik secara terang-terangan mau pun secara sembunyi-sebunyi, maka racun yang pakai merek dagang “Orba tidak salah” ini akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang bisa membahayakan demokrasi dan reformasi. Mengapa? Berikut adalah sumbangan sekadarnya bagi penelaahan kita bersama.

Orde baru adalah sistem politik yang salah

Ketika Hamzah Haz berani terang-terangan menyatakan, sebagai wakil-presien RI pula (!!!) bahwa Orde Baru tidak salah dan karenanya masyarakat dianjurkan untuk tidak terus menjelek-jelekannya, maka ini merupakan pertanda tidak baik. Bolehlah kiranya diibaratkan bahwa ada satu “anasir” yang tidak “sehat” dewasa ini yang sedang bercokol dalam pucuk pimpinan negara dan pemerintahan. Sebab, sejak beberapa tahun terakhir ini, terutama sesudah jatuhnya Suharto, bolehlah dikatakan bahwa setiap hari Orde Baru telah diblejedi, dalam berbagai bentuk dan cara, baik dalam ceramah, seminar, tulisan-tulisan dalam media-cetak dan siaran televisi maupun dalam aksi-aksi mahasiswa dan berbagai golongan masyarakat. Telah banyak bukti yang ditunjukkan selama ini, baik di Indonesia maupun di luarnegeri, bahwa Orde Baru adalah, pada hakekatnya, merupakan : suatu sistem politik yang diciptakan dan dijalankan oleh satu rezim militer (yang dikuasasi oleh TNI-AD). Rezim militer ini, telah dibangun atas dasar pembunuhan jutaan manusia tidak bersalah dan penggulingan Bung Karno. Rezim militer ini jugalah yang telah menjalankan Dwifungsi Abri, dan membunuh kehidupan demokratis dengan cara-cara yang sudah kita kenal selama puluhan tahun. (Tentunya, Hamzah Haz juga mengetahui fakta-fakta sejarah ini).

Orde Baru adalah juga satu konsep pemikiran – yang kemudian menjadi suatu sistem - yang tidak menghargai HAM dan melecehkan supremasi hukum. Tentang soal ini, tidak perlulah kiranya berpanjang-panjang : pembunuhan besar-besaran dan pemenjaraan ratusan ribu orang tidak bersalah, penculikan aktifis-aktifis, peristiwa Aceh, Irian Jaya, Haur Koneng, Tanjung Priok, penyerbuan kantor PDI pada tanggal 27 Juli 1996, dan sederetan panjang peristiwa-peristiwa lainnya. Orde Baru ini jugalah yang membikin penderitaan (besar dan kecil) terhadap puluhan juta keluarga korban pembunuhan 65 dan keluarga eks-tapol selama puluhan tahun, yang sampai sekarang masih belum direhabilitasi. (Mudah-mudahan, Hamzah Haz ingat tentang soal-soal ini).

Orde Baru adalah gabungan dari sistem politik dan cara berfikir, yang memproduksi kerusakan moral parah secara besar-besaran, terutama dalam kalangan elite, yang kemudian meluas dalam masyarakat. Sebagai akibatnya : KKN merajalela, hakim dan jaksa (juga polisi) bisa dibeli, bahkan suara dalam Pemilu pun dijadikan perdagangan gelap. Seluruh dunia sudah tahu bahwa korupsi di Indonesia adalah termasuk yang paling top (dan jumlah uang yang dikorup dengan berbagai cara pun sudah sulit diperkirakan lagi, karena kelewat besar), tetapi, anehnya, hanya beberapa orang koruptor saja yang selama ini telah diajukan ke depan pengadilan. (Pastilah, Hamzah Haz tahu tentang banyaknya korupsi di “sekitarnya”, baik di kalangan DPR maupun di luar).

Orde baru jangan dijelek-jelekkan?

Adalah hak Hamzah Haz untuk mempunyai pendapat pribadi bahwa Orde Baru tidak salah. Agaknya, pendapatnya ini memang juga sesuai dengan “perjoangan” politiknya selama ini. Tetapi, ketika ia menganjurkan masyarakat untuk tidak menjelek-jelekkan Orde Baru, inilah yang perlu ditanggapi secara serius, bahkan perlu dilawan bersama-sama secara keras pula!. Sebab, seruannya itu dilancarkan dalam acara syukuran terpilihnya dirinya sebagai wakil-presiden di Jakarta. Karenanya, bolehlah disimpulkan bahwa seruannya itu memang merupakan pendirian politiknya - yang “resmi” - mengenai Orde Baru. Pendirian politiknya ini adalah bertentangan dengan opini umum yang sudah nyata-nyata mengutuk kesalahan dan kejahatan Orde Baru. Pendirian politiknya ini berlawanan dengan tuntutan dilaksanakannya reformasi. Sebab, reformasi adalah, intinya, memberantas segala keburukan dan kesalahan yang telah dibikin Orse Baru selama lebih dari 32 tahun.

Seruan wakil-presiden Hamzah Haz kepada masyarakat untuk tidak menjelek-jelekkan terus Orde Baru berarti - secara langsung atau tidak - bisa menghambat diteruskannya reformasi. Padahal, reformasi ini sudah menjadi tugas nasional yang disepakati oleh MPR, DPR, dan sering disebut-sebut dalam resolusi atau pernyataan berbagai partai politik (termasuk PPP-nya Hamzah Haz), dan juga oleh sebagian terbesar Ornop atau LSM. Sedangkan untuk bisa mengadakan reformasi perlulah diketahui apa saja yang perlu direformasi atau apa saja yang harus dirombak. Dan untuk mengetahui secara baik tentang apa yang perlu dirombak, maka kesalahan atau keburukan yang telah dibikin Orde Baru selama lebih dari 32 tahun haruslah dibeberkan. Membeberkan secara jelas dan objektif segala kesalahan atau keburukan Orde Baru, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan reformasi. Jadi, bukanlah sekadar urusan menjelek-jelekkan Orde Baru saja!.

Ucapan wakil-presiden RI Hamzah Haz lainnya yang mengatakan:”Saya sering berkeliling dan mendengar orang berkata bahwa Orde Baru lebih baik daripada era reformasi karena bisa bekerja” juga patut dikaji dalam-dalam. Kalimat semacam ini, yang sangat bernuansa untuk membela Orde Baru, lebih menjelaskan lagi bahwa cepat atau lambat, pastilah akan terjadi perbenturan politik antara Hamzah Haz (dkk) dan seluruh kekuatan yang pro-reformasi. Lalu, bagaimana tentang ungkapannya bahwa “Orde Baru lahir sebab Orde Lama menyimpang dari perjuangan dan komunis hampir saja berkuasa” ? Sebaiknya, kita anjurkan sajalah kepada Wakil Presiden kita ini untuk mencari kesempatan, di tengah-tengah kesibukannya dalam memimpin negara ini, juga membaca buku-buku tentang lahirnya Sekber-Golkar, tentang peristiwa G30S, tentang lahirnya Supersemar, tentang sidang-sidang MPRS untuk menjatuhkan Bung Karno, yang sekarang mulai banyak beredar dalam pasaran (termasuk buku-buku yang ditulis oleh para pakar luarnegeri). Perlulah diingatkan kepadanya bahwa penerbitan-penerbitan Sekretariat Negara, Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan atau Lembaga Sejarah Militer, bukanlah sumber informasi yang terpercaya mengenai sejarah lahirnya Orde Baru dan tentang “penyimpangan perjuangan Orde Lama”.

Dan sebaiknya dianjurkan pula kepadanya supaya membaca juga berita, yang menghebohkan akhir-akhir ini, tentang ditariknya dari peredaran di Amerika Serikat, buku yang berisi laporan tentang keterlibatan CIA dalam peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan G30S. Dengan begitu, maka bisa diharapkan bahwa lain kali, ia akan bisa memberikan keterangan-keterangan yang lebih membantu mencerdaskan bangsa. Dan bukan kebalikannya. Sekian dulu, dan titik.