02 Januari 1997 — 10 menit baca

Bukanlah PRD dan Pakpahan yang diadili, melainkan Orde Baru

Tujuan yang diperjoangkan aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan merupakan aspirasi banyak orang

Oleh: Rasyidin Sulaima (Nama samaran, untuk mengenang rekan wartawan Rasyidin Bey dan Zulkifli Sulaiman, yang sama-sama bekerja di Harian PENERANGAN, Padang)

Disidangkannya perkara anak-anak muda aktifis PRD dan pimpinan SBSI Pakpahan di depan Pengadilan Negeri Jakarta dan Surabaya merupakan kekeliruan serius di bidang politik yang dilakukan oleh penguasa-penguasa Orde Baru dibawah pimpinan Pak Harto. Sejarah akan mencatat bahwa peristiwa ini merupakan cacad besar Orde Baru di bidang moral dan di bidang hukum. Di samping itu, perkembangan situasi di kemudian hari akan menunjukkan juga bahwa, pada hakekatnya, dan pada akhirnya, justru Pak Harto dan kekuasaan Orde Baru-nyalah yang diajukan di depan Pengadilan.

Karenanya, apapun yang diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta dan Surabaya, keluhuran nilai moral, perasaan keadilan, dan kebenaran orientasi politik, telah dimenangkan oleh anak-anak muda PRD dan Mohtar Pakpahan. Persidangan pengadilan ini telah menyajikan pertunjukan yang menarik, yang menggambarkan betapa kekuasaan yang besar dan yang sedang dalam proses pembusukan telah ditantang oleh kekuatan moral yang mewakili hari depan negara dan bangsa Indonesia. Juga pertunjukan yang “mengasyikkan” bagi ilmuwan, pakar atau mahasiswa bidang hukum, karena mereka dapat menyaksikan betapa hukum dan pengadilan telah bisa dimanipulasi, dikebiri, disulap, direkayasa atau dipelacurkan, demi kebutuhan politik fihak “penguasa”.

Banyak bahan yang berkaitan dengan persidangan anak-anak muda PRD dan Pakpahan ini bisa merupakan sumbangan kepada sejarah hukum dan peradilan Indonesia. Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau segala dokumen otentik dan bahan-bahan lainnya yang mengenai persidangan ini bisa dibukukan, untuk kemudian dijadikan khazanah perpustakaan birokrasi hukum, LSM-LSM yang bergerak di bidang hukum, dan dijadikan topik pengkajian dalam fakultas-fakultas hukum di seluruh universitas di Indonesia. Seminar-seminar atau diskusi ilmiah mengenai peristiwa ini juga akan sangat berguna bagi pembangunan hukum di negeri kita. Ini semua penting untuk diketahui oleh banyak orang, guna lebih mengerti berbagai aspek kekuasaan Orde Baru yang memerintah negara kita selama 30 tahun ini.

Persidangan perkara anak-anak muda PRD dan Pakpahan di depan Pengadilan Jakarta dan Surabaya menyajikan berbagai hal yang penting untuk kita simak bersama, kita renungkan, dan kita ambil hikmahnya. Dengan mendengarkan hati-nurani kita masing-masing, maka kita akan mengerti dengan jelas bahwa Pak Harto beserta pejabat-pejabat tinggi beliau telah menempuh jalan yang keliru, yang akan tercatat sebagai dosa terhadap generasi muda bangsa kita dewasa ini, dan akan disesalkan oleh generasi yang akan datang. Kekuasaan, yang terpusat di tangan Pak Harto, telah berusaha mencekik suara anak-anak muda PRD, yang pada hakekatnya adalah suara hati-nurani sebagian terbesar rakyat Indonesia mengenai berbagai penyakit parah yang sedang melanda tubuh negara dan bangsa Indonesia dan mengenai aspirasi banyak orang akan adanya perobahan dan perbaikan.

Kalau kita simak sejarah mengapa anak-anak muda kita itu mendirikan PRD, dan kalau kita teliti dokumen-dokumen, pidato-pidato dan aksi-aksi yang sudah mereka lakukan selama ini, maka nalar sehat kita masing-masing akan melihat bahwa tujuan anak-anak muda kita itu adalah sesuatu yang mulia, yang benar dan sah. Dan, adalah juga sah dan benar, kalau kita merasa bangga terhadap sikap yang telah diambil anak-anak muda kita itu. Sebab, ketika banyak orang tidak berani menuding secara tegas kebobrokan sistem kekuasaan Pak Harto, anak-anak muda kita ini telah tampil untuk melawan sistem ini dengan program yang jelas, dengan aksi-aksi kongkrit, dengan keberanian, dengan tekad dan keuletan, dan, dengan semangat pengorbanan diri. Sikap yang begini inilah yang patut menjadi teladan bagi banyak anak-anak muda lainnya, karena berani “melawan arus” ketika negeri ini sedang di-obrak-abrik oleh pejabat-pejabat Orde Baru di bawah pimpinan Pak Harto.

Sebenarnya, kalau kita dengar pembicaraan di berbagai kalangan dalam masyarakat, maka jelaslah bahwa persoalan-persoalan yang diangkat oleh anak-anak muda kita PRD itu sudah menjadi pula “uneg-uneg” hati banyak orang yang prihatin terhadap kerusakan-kerusakan besar yang sudah terjadi di negeri ini sebagai akibat dari sistem politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, yang dijalankan oleh Orde Barunya Pak Harto selama 30 tahun ini. Sudah begitu banyak artikel, komentar, wawancara, seminar, sarasehan, yang telah mempersoalkan (dengan berbagai cara, termasuk dengan kalimat-kalimat terselubung dan bahasa yang penuh dengan ungkapan tersirat) problem-problem yang dikemukakan oleh anak-anak muda PRD. Ringkasnya, banyak masalah-masalah yang diperjoangkan oleh anak-anak muda PRD itu adalah, pada hakekatnya, juga merupakan problem yang dipersoalkan banyak orang. Jadi, perjoangan anak-anak muda ini mencerminkan kebutuhan objektif dan mewakili kepentingan banyak orang. Di sinilah letak kebesaran dan kebenaran “misi” yang mereka perjoangkan dengan semangat pengorbanan diri itu.

Peristiwa Tasikmalaya, yang mula-mula disebabkan oleh tingkah laku sejumlah polisi yang main hakim sendiri, dan kemudian mengakibatkan timbulnya tindakan kriminal secara besar-besaran yang dilakukan terhadap gereja, toko-toko, kantor polisi dan rumah-rumah penduduk, mengingatkan kepada kita semua bahwa banyak problem besar yang sedang dihadapi oleh masyarakat dewasa ini. Format politik atau tatanan politik pemerintahan Orde Baru sudah menimbulkan berbagai penyakit dan kerusakan yang serius. Akibat “demokrasi Pancasila”-nya Presiden Suharto (yang pada hakekatnya tidak demokratik dan tidak pula sungguh-sungguh mempraktekkan Pancasila) maka rakyat tidak bisa melakukan kontrol terhadap penggunaan kekuasaan. Kekuasaan Orde Baru yang intinya adalah Suharto-Abri-Golkar-Konglomerat, dan yang menyalahgunakan Dwifungsi Abri, telah menimbulkan kesenjangan sosial yang membikin frustasi banyak orang karena merajalelanya kebudayaan korupsi, kolusi, persekongkolan, dan penyalahgunaan kekuasaan pejabat-pejabat dalam berbagai bentuk di segala lapangan dan di semua tingkat pula.

Sudah sepantasnyalah kalau kita merasa bangga bahwa ada sebagian dari generasi muda yang begitu “concerned” terhadap masalah-masalah besar negara dan bangsa, ketika banyak anak-anak muda di negeri kita sudah begitu lama dirusak oleh sistem politik, sosial, kebudayaan (dan pendidikan !) Orde Baru. Terasa menyegarkan dan melegakan hatilah bagi kita untuk menyaksikan bahwa, walaupun Orde Baru selama ini sudah berusaha untuk men-“depolitisasi” anak-anak muda, masih banyak juga yang, dengan kemurnian hati dan tekad yang tulus, berusaha berbakti kepada rakyat dan memperjuangkan perbaikan-perbaikan dalam pengurusan pemerintahan. Generasi muda yang semacam inilah yang bisa kita harapkan, sebagai aset nasional yang berharga, untuk ikut membangun hari depan bangsa kita. Dan bukannya generasi muda yang semacam anak-anak pejabat dan konglomerat, yang sudah ketularan kemerosotan moral bapak-bapak dan “oom-oom” mereka. Banyak di antara generasi muda “putera dan puteri” ini yang sudah menjadi calon benalu negara dan calon penyakit kangker bangsa.

Seharusnya, fikiran waras dan kesedaran nasional justru harus gembira dengan adanya unsur-unsur bangsa seperti anak-anak PRD ini. Dan, bukannya seperti sikap Pak Harto dan pembesar-pembesar Orde Baru, yang malahan menjebloskan mereka dalam tahanan dan siksaan, dan yang malahan memperlakukan mereka sebagai musuh. Sebab, ketika banyak orang memperkaya diri dengan beramai-ramai mencuri kekayaan negara dengan cara-cara korupsi dan kolusi, aktifis-aktifis muda ini dengan berani telah tampil untuk menunjukkan jalan kepada orang-orang yang tersesat ini. Kemuliaan mereka adalah bahwa mereka “dimusuhi” oleh kekuasaan Orde Baru di bawah pimpinan Pak Harto, yang merupakan konsentrasi dari banyak sifat negatif sebuah kekuasaan.

Persidangan ini tidak menguntungkan kekuasaan Pak Harto, bahkan sebaliknya, gerakan pro-demokrasi dan pro HAM-lah yang mendapat “panen”. Sebab, pembeberan fakta dan penyajian keterangan mengenai berbagai soal yang berkaitan dengan kasus PRD ini telah memungkinkan banyak orang untuk mengerti bahwa inti-persoalan yang diperjoangkan anak-anak muda adalah sesuai dengan aspirasi banyak orang. Karena itu, walaupun aktifis-aktifis muda ini (yang kebanyakan terdiri dari mahasiswa atau anak terpelajar antara umur 20 sampai 27 tahun) dijebloskan dalam tahanan, mereka tidak akan dipandang nista oleh banyak orang yang mendambakan ditegakkannya demokrasi yang sebenarnya di negeri ini. Justru sebaliknya, mereka mendapat simpati yang lebih besar, baik di dalamnegeri maupun di luarnegeri.

Pak Harto, beserta pejabat-pejabat tinggi yang mendukungnya, akan salah hitung kalau mereka ber-angan-angan bahwa dengan pengejaran, penangkapan dan pemenjaraan aktifis-aktifis muda ini, gerakan pro-demokrasi (baik yang di kalangan generasi muda, maupun yang di kalangan-kalangan lainnya), akan bisa ditumpas begitu saja. Memang, untuk sementara, ada yang terpaksa “tiarap” dan menjalankan taktik “low profile”, dan ada yang terpaksa “mundur” sebagai akibat hebatnya persekusi dan represi. Para aktifis dan simpatisan PRD dan SBSI-nya Pakpahan bisa saja dimasukkan dalam penjara atau dipaksa bergerak di bawah tanah, tetapi “message” mereka sudah berkumandang di mana-mana, dan masih akan terus bisa didengar di negeri ini, dan juga di luarnegeri.

Perlu diketahui oleh Pak Harto, oleh pembesar-pembesar Orde Baru, dan juga oleh para hakim dan jaksa, bahwa persidangan pengadilan terhadap aktifis PRD dan Pakpahan ini diikuti oleh banyak orang asing (yang bekerja di berbagai lembaga resmi atau swasta dan macam-macam LSM) di London, Brussel, Strasbourg, di Oslo, Stockholm, Amsterdam, Leiden, Aachen, Bonn, Hamburg, Genewa, Paris, Lisabon, Roma. Juga diikuti oleh banyak orang di Amerika Serikat, di Canada, dan di Australia. Banyak pula orang-orang Indonesia di luarnegeri yang mengikuti persoalan PRD dan Pakpahan lewat Internet. (Lewat Internet ini, bisa didapat dengan cepat berita-berita atau artikel yang dimuat oleh berbagai suratkabar dan majalah di Indonesia, dan juga segala macam bahan informasi yang disiarkan oleh Apakabar, Tapol, Siar, Kabar Dari Pijar, Bergerak!, Pembebasan dll. Sebagai contoh, syair Wiji Thukul yang ditulisnya dari tempat persembunyiannya, atau tulisan Wilson dan Budiman Sujatmiko dari Rutan Kejagung, dengan mudah telah tersebar di berbagai negeri Eropa, di Amerika, di Canada, di Australia, lewat saluran Internet).

Persidangan pengadilan terhadap aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan merupakan suatu tindakan kontra-produktif bagi Pak Harto dan Orde Barunya. Sebab, peristiwa ini menunjukkan kekerdilan dan kepicikan jiwa para penguasa untuk “melihat tanda-tanda zaman” (kata-kata ini dari Pak Harto sendiri, lucunya !), yang telah dibutakan oleh keserakahan akan harta-benda dan kekuasaan. Kekerdilan dan kepicikan jiwa mereka inilah yang berusaha untuk mencekik suara generasi muda - sejak berdirinya Orde Baru - yang ingin berbakti untuk kepentingan rakyat dan negara. Semangat patriotisme dan jiwa kerakyatan telah mereka coba bunuh di kampus-kampus universitas, dan sebaliknya mereka mendirikan organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa “kuning”. Organisasi-organisasi kepemudaan kuning ini bukanlah merupakan wadah untuk memupuk bibit-bibit unggul untuk hari kemudian bangsa dan negara, melainkan sebaliknya, memupuk calon-calon parasit dan “penjahat berdasi” yang dibesarkan oleh “kebudayaan” bapak-bapak mereka, yang mengibarkan bendera Orde Baru.

Adalah kesalahan besar bahwa Pak Harto telah menuduh aktifis-aktifis PRD sebagai dalang peristiwa 27 Juli. Sebab, anak-anak muda ini tidak terlibat dalam peristiwa yang telah membikin “hilangnya” 23 orang dan meninggalnya 5 orang dan kerusakan-kerusakan materi yang begitu besar itu. Bahkan sebaliknya, banyak bukti telah muncul bahwa peristiwa ini bersumber pada persekongkolan para penguasa-tinggi Orde Baru dengan kelompok PDI-gadungan Suryadi, dengan mengerahkan aparat-aparat negara. Kesalahan Pak Harto yang begini besar ini diiringi pula oleh kesalahan serius lainnya, yaitu membiarkan diadilinya aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan, dengan tuduhan subversif. Bukan saja tuduhan subversif ini merupakan alasan yang di-cari-cari dan tidak masuk nalar yang sehat, melainkan manifestasi dari ke-sewenang-wenangan pentrapan hukum. Ditambah lagi, dengan adanya fakta-fakta bahwa para aktifis muda ini telah mendapat siksaan oleh perwira-perwira BIA, dengan cara-cara yang tidak bisa dinilai “beradab” dan yang menodai nama ABRI, Saptamarga dan Pancasila.

Semua itu menunjukkan bahwa kekuasaan politik Pak Harto berjalan melawan “tanda-tanda zaman”, baik yang berlangsung di dalamnegeri maupun di bidang internasional. Juga menunjukkan bahwa kekuasaan politik Orde Baru sudah menjadi musuh dari aspirasi generasi muda yang mendambakan reformasi di segala bidang guna menyelamatkan hari kemudian bangsa dan negara. Pak Harto dan para pembantu-pembantunya telah membuat dosa, bukan saja terhadap generasi muda yang sekarang, melainkan, dan terutama, terhadap generasi yang akan datang.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh kekuasaan politik yang dipimpin Pak Harto ini, dan dosa-dosa yang dibikinnya dalam masa kini terhadap generasi muda, diiringi oleh pemerkosaan dalam skala besar-besaran terhadap hak-hak demokrasi dan pelecehan HAM. Persekusi, penangkapan, penyiksaan dalam tahanan, dan kemudian pemeriksaan didepan pengadilan terhadap aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan, menyajikan bahan kepada kita semua yang menunjukkan bahwa sistem politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan Orde Baru sudah memerlukan reformasi. Dari sudut pandang ini, jelaslah bahwa orientasi yang dituju oleh aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan mengandung kebenaran strategis. Perkembangan situasi politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan di negeri kita dewasa ini, dan juga dalam masa depan, akan membuktikan bahwa tuntutan terhadap perlunya reformasi adalah benar dan sah.

Sejarah akan membuktikan bahwa tujuan yang diperjoangkan anak-anak muda kita aktifis-aktifis PRD dan Pakpahan tidak berdiri sendiri. Ia sudah bersemayam di hati banyak orang. Bibit-bibit yang mereka sebarkan sudah mulai tumbuh, dan akan tumbuh terus berkat bantuan begitu banyak faktor di dalamnegeri dan juga di luarnegeri. Perjoangan mereka tidak akan sia-sia !