14 Agustus 2001 — 12 menit baca

Awas, Hamzah bela Orba

Para pembaca, mohon perhatian bahwa ada satu soal besar yang perlu bersama-sama kita telaah dengan teliti, atau kita renungkan dalam-dalam. Sebab, soal besar ini bisa mempunyai dampak terhadap perkembangan kehidupan kita sebagai negara dan bangsa di kemudian hari!. Soal besar ini adalah pernyataan Wakil Presiden Hamazah Haz – untuk kedua kalinya di depan publik ! – yang “mengajak bangsa Indonesia untuk tidak terlalu menyalahkan Orde Baru karena sebenarnya orde tersebut memberikan jasa yang konkret dalam hal pembangunan, dan mencegah Indonesia menjadi negara komunis.”

Hal tersebut diungkapkan Hamzah dalam salah satu bagian pidatonya pada acara pembukaan “Gelanggang Dagang dan Pameran Pendidikan IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)” yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Minggu (12/8). Menurut Wapres, yang patut disalahkan adalah rezim dari Orde Baru dan bukan Orde Baru-nya. “Jangan salahkan Orde Baru-nya, salahkan rezimnya, karena kalau tidak ada Orde Baru kita sudah jadi negara komunis,” tandas Hamzah sembari berusaha meluruskan hujatan-hujatan pada Orde Baru yang belakangan muncul. Sebelumnya pada bagian awal pidatonya, Hamzah juga menegaskan bahwa pemerintah sekarang ini akan tetap konsisten untuk melakukan pembangunan, seperti yang telah dicanangkan sejak awal lewat pemerintahan Orde Baru. (Kompas Minggu, 12 Agustus 2001)

Dalam tulisan yang terdahulu (tanggal 31 Juli) tentang persoalan yang sama, oleh penulis telah diungkapkan berbagai hal yang berkaitan dengan ucapan-ucapan Hamzah Haz yang juga sudah “mengajak masyarakat untuk tidak terus menjelek-jelekkan Orde Baru saja”. Tetapi, karena Hamzah Haz masih terus juga mengulangi ucapan-ucapannya yang serupa dan senada, maka tulisan ini terpaksa dibuat juga, karena ucapannya ini bukan saja merupakan tantangan terhadap opini publik, melainkan juga sebagai penghinaan terhadap nalar sehat dan hati-nurani banyak orang. Karenanya, untuk menggarisbawahi pentingnya berbagai persoalan – dan juga menggambarkan kekentalan emosi - dalam tulisan kali ini digunakan ekspresi yang mungkin terasa kasar. Mohon maklumlah, kiranya, sebelum membaca seterusnya.

Ini Semuakah Yang Tidak Perlu Dibicarakan Lagi?

Ucapan Hamzah Haz seperti yang tertera di atas adalah sesuatu yang tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja tanpa mendapat perlawanan. Sebab, sebagai seorang wakil presiden, ajakannya “kepada bangsa Indonesia untuk tidak menyalah-nyalahkan saja, menjelek-jelekkan saja, atau mengungkit-ungkit saja Orde Baru” adalah keterlaluan!. Sebagai negarawan (heh?) ia tidak pantas melakukannya, sebagai seorang politisi ia kelihatan cupet pemikirannya, sebagai pemimpin partai Islam ia kelihatan tidak bijaksana, sebagai seorang Muslim ia perlu diragukan wawasannya, sebagai manusia biasa dan warganegara ia patut disayangkan tentang kesadaran civicnya. (Ekspresi yang eksesif? Mohon ma’af, kalau memang terasa demikian. Tetapi, harap perhatian juga terhadap hal-hal yang dijelaskan di bawah ini).

Hamzah Haz sudah lama berkecimpung dalam politik, selama Orde Baru. Ia lama menjadi anggota DPR, yang walaupun selama puluhan tahun hanya dijadikan stempel mati saja, tetapi ia tahu banyak tentang berbagai politik yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Adalah wajar, bahwa, karenanya, ia tahu banyak tentang kesalahan-kesalahan dan kebusukan orang-orang dan juga sistem politik Orde Baru. Karena sebagai anggota DPR ia ikut membahas berbagai tindakan atau politik pemerintahan Orde Baru, bahkan menyetujuinya. Jadi, - sedikit atau banyaknya - ia ikut bertanggung-jawab. Bahkan, bisalah dikatakan bahwa ia satu dengan Orde Baru.

Selama puluhan tahun ia sudah tahu bahwa korupsi merajalela besar-besaran di kalangan pejabat-pejabat (militer atau sipil) dan terjadi segala macam kolusi kotor dan haram di antara pemegang kekuasaan dan pemegang modal besar. Tetapi, ia bersama-sama teman-temannya apakah sudah berani mempersoalkan itu semuanya ? Masalah keserakahan luar biasa keluarga Suharto juga sudah puluhan tahun menjadi sorotan publik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kebusukan nama Suharto beserta keluarganya (dan konco-konconya) sudah lama menjadi bacaan luas dalam pers internasional. Cerita tentang Tommy yang belum ditangkap juga (sampai tulisan ini dibuat) menjadi pertanyaan, ejekan atau tertawaan banyak orang, juga di banyak negeri di dunia (termasuk di Prancis).

Hamzah Haz sendiri pastilah juga tahu, bahkan merasakan sendiri, bahwa selama puluhan tahun Orde Baru telah melakukan sensor terhadap pers, bahwa kebebasan demokratis dicekek, bahwa hukum telah dimanipulasi seenak para petinggi Orde Baru, bahwa jaksa dan hakim mudah dibeli, bahwa banyak jenderal-jenderal atau petinggi militer memperkaya diri dengan cara-cara yang tidak luhur, bahwa terror politik telah berlangsung lama sekali, bahwa banyak orang telah diculik atau dibunuh begitu saja oleh TNI-AD tanpa ada pengusutan atau hukuman, bahwa …, bahwa …… dan bahwa ….!!! (harap isi sendiri selanjutnya, sebab bisa terlalu panjang, jadinya).

Kejahatan Orde Baru selama puluhan tahun adalah terlalu banyak, terlalu beragam, dan terlalu luas bidangnya. Dan karenanya, kerusakan-kerusakan yang telah dibikinnya tidak bisa, tidak boleh, dan juga tidak benar, kalau dilupakan saja, atau didiamkan saja. Mengingat itu semuanya, apakah ajakan Hamzah Haz kepada bangsa kita untuk tidak menjelek-jelekkan Orde Baru bisa dianggap baik? Tidak, tidak dan, sekali lagi, tidak!!!!! (tanda seru lima kali). Ajakan ini berbahaya, berbau politik busuk, dan juga bermoral rendah. Mengapa? Berikut adalah sekadar bahan untuk renungan kita bersama : AJAKAN HAMZAH HAZ ADALAH PENGKHIANATAN!

Agaknya, sekarang makin jelaslah bagi banyak orang bahwa periode pemerintahan Orde Baru merupakan halaman-halaman hitam dalam sejarah bangsa Indonesia. Periode gelap yang sudah menterpurukkan citra bangsa di dunia internasional ini tidak boleh terulang lagi. Periode yang penuh dengan kejahatan politik dan kejahatan kemanusiaan ini harus dijadikan pendidikan penting bagi bangsa dan generasi yang akan datang. Periode yang telah membikin kerusakan-kerusakan besar dan parah – yang akibat-akibatnya menjadi warisan kita dewasa ini – harus diselidiki atau dipelajari sebaik-baiknya oleh bangsa kita. Periode yang penuh kebusukan ini merupakan cermin bangsa untuk membersihkan diri dan melanjutkan perjalanan dalam nation building and character building (“Hah, lagi-lagi mengutip Bung Karno”, mungkin ada yang berkomentar demikian.) Jadi, ajakan Hamzah Haz untuk tidak mengusik-usik lagi sejarah Orde Baru adalah salah.

Bahkan berbahaya!!! Sebab, kalau ucapan Hamzah Haz ini tidak dilawan, maka akan merupakan halangan bagi terlaksananya reformasi. Banyak orang, terutama pejabat-pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat – baik di Pusat maupun di daerah-daerah - bisa akan mendapat kesan (yang salah) bahwa “jangan utik-utik Orde Baru” adalah “garis resmi” pemerintah. Padahal belum tentu. Sebab, masih patutlah diragukan apakah “garis” politik semacam ini juga disetujui oleh Presiden Megawati. Seandainya – sekali lagi : seandainya ! – Megawati menyetujuinya, maka inilah sinyal bahwa perlawanan besar-besaran oleh seluruh kekuatan reformasi sudah perlu digelar bersama-sama. Dan ini akan membawa konsekwensi yang besar. Sebab, Megawati akan (makin) hancur di hati banyak orang, dan akan membawa kemerosotan besar bagi PDI-P? Ajakan Hamzah Haz kepada bangsa untuk tidak menjelek-jelekkan Orde Baru, adalah pengkhianatan terhadap aspirasi rakyat. (Terlalu keras? Untuk jelasnya, mohon baca yang berikut:)

Kita sama-sama ingat bahwa reformasi sudah menjadi “program” bangsa. MPR telah membuat keputusan tentang soal perlunya dilakukan reformasi. Begitu banyak pernyataan dan tulisan yang sudah dikeluarkan oleh berbagai organisasi (partai-partai, LSM atau ornop) selama lebih 3 tahun tentang pentingnya reformasi, dan begitu banyak aksi-aksi yang juga sudah dijalankan oleh gerakan pemuda/mahasiswa yang menuntut dilaksanakannya reformasi. Artinya, aspirasi rakyat terhadap reformasi sudah dinyatakan secara jelas lewat berbagai saluran dan dengan beraneka cara. Sedangkan arti dan tujuan reformasi adalah juga jelas, yaitu : memperbaiki segala kerusakan, kesalahan atau kebusukan yang telah dibikin Orde Baru. Di antara kerusakan dan keburukan itu adalah KKN dan penyalahgunaan hukum dan peradilan dan pelanggaran HAM.

“Ajakan” Hamzah Haz jelas bermakna bahwa ia membela Orde Baru, atau menutupi kesalahan dan keburukan yang telah ditimbulkannya selama puluhan tahun. Bisa juga bermakna bahwa ia mau melindungi para koruptor kakap dan para pelanggar hukum lainnya, termasuk pelanggar HAM. Lebih jauh lagi, bisa bermakna bahwa ia menginginkan kembalinya Orde Baru dalam versi yang baru pula. Inilah yang merupakan pengkhianatan yang besar terhadap aspirasi rakyat. Dan, karenanya, ini pulalah yang perlu dilawan, secara besar-besaran, dan terus-menerus, oleh seluruh kekuatan pro-reformasi.ORDE BARU BERJASA DALAM PEMBANGUNAN?

Bahwa Hamzah Haz, secara pribadi, menganggap Orde Baru itu baik adalah haknya yang sah dan wajar. Ini bisa dikemukakan dalam keluarganya, di depan teman-temannya atau partainya (PPP). Tetapi, menjadi lain lagilah persoalannya kalau ia berbicara demikian sebagai wakil presiden dalam acara yang resmi dan untuk umum pula. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Orde Baru sebenarnya telah “memberikan jasa yang konkret dalam hal pembangunan, dan mencegah Indonesia menjadi negara komunis”, dan bahwa “Orde Baru lahir karena Orde Lama telah menyimpang dari perjuangan”. Atau ketika ia menegaskan bahwa pemerintah sekarang ini akan tetap konsisten untuk melakukan pembangunan, seperti yang telah dicanangkan sejak awal lewat pemerintahan Orde Baru. (Kompas Minggu, 12 Agustus 2001)

Kalimat-kalimat itu secara jelas menampilkan pembelaannya terhadap Orde Baru. Sebagai intelelektuil yang bergelar doktor (mohon jangan tanya dalam bidang apa dan dari mana gelarnya itu! Ma’af, agak sinis, barangkali) tentulah - banyak sedikitnya – mengetahui atau mendengar bahwa kebangkrutan ekonomi Indonesia bukannya hanya karena krisis moneter tahun 1997 saja, melainkan juga karena berbagai politik ekonomi yang dijalankan oleh Orde Baru selama puluhan tahun. Gedung-gedung tinggi dan megah memang sudah dibangun di Jakarta maupun di berbagai kota besar lainnya. Jalan tol juga terpasang di banyak tempat. Segala macam pabrik juga sudah berdiri. Produksi minyak juga makin banyak. Perkebunan kelapa sawit juga meluas di dekat hutan-hutan. Sejumlah besar bank juga muncul sebagai jamur. Tetapi, berapa besarkah kerusakan moral yang berdiri di belakang itu semua? (baca: KKN yang tersangkut didalamnya).

Memang, juga tidak bisa dibantah, bahwa banyak rumah-rumah yang besar dan mewah telah berdiri dengan megah di daerah Kuningan, Pondok Indah, Bintaro, Cibubur dll yang dimiliki oleh para petinggi militer dan sipil di Jakarta (juga di daerah-daerah). Dan, jelaslah juga bahwa banyak pejabat-pejabat dan konglomerat yang memiliki 4 sapai 6 rumah, atau lima sampai 12 mobil untuk satu keluarga. Tetapi untuk itu semua berapa saja uang yang telah dicuri dari keringat rakyat (pajak). Kita sama-sama pernah mendengar bahwa 30 sampai 40 % anggaran pembangunan telah dikantongi oleh para koruptor. Sedangkan, hutang luarnegeri kita sudah mencapai sekitar 200 milliar US$, dan jumlah pengangguran (terbuka dan tertutup) sekitar 40 juta! Namun, Hamzah Haz masih berani mengatakan bahwa “pemerintah sekarang ini akan tetap konsisten untuk melakukan pembangunan, seperti yang telah dicanangkan sejak awal pemerintahan Orde Baru”. Lalu, penjelasan apakah kiranya yang bisa diberikan olehnya tentang KKN yang merajalela selama puluhan tahun itu? Atau tentang penumpukan kekayaan oleh keluarga Suharto? Itukah jasa yang konkret oleh Orde Baru?TENTANG ORDE BARU DAN ORDE LAMA

Hal yang menarik lainnya dari ucapan Hamzah Haz adalah ketika ia menjelaskan bahwa “Orde Baru lahir karena Orde Lama sudah menyimpang dari perjuangan dan bahwa berkat kelahirannya maka dapat dicegahlah Indonesia menjadi komunis”. Bahwa Hamzah Haz tidak suka kepada Bung Karno dapatlah dimengerti, kalau mengingat sejarah pribadinya sejak ia muda. Di samping itu indoktrinasi intensif, menyeluruh dan sistematis selama Orde Baru yang meniru cara-cara Goebels rupanya mempunyai pengaruh juga terhadap cara berfikir Hamzah Haz. Dari segi inilah kelihatan betapa pentingnya usaha bersama untuk mengungkap kembali sejarah yang sebenarnya tentang terjadinya “kudeta merangkak” yang dilakukan oleh TNI-AD (Suharto dkk) terhadap Bung Karno, sebagai akibat terjadinya peristiwa G30S. (Juga, kelihatan betapa makin mendesaknya untuk membetulkan buku-buku pelajaran sejarah yang dipakai dalam sekolah-sekolah lanjutan).

Sejarah lahirnya Orde Baru dan regim militernya yang berkuasa selama 32 tahun adalah masalah besar sejarah bangsa. Demikian juga sejarah “Orde Lama” yang berumur 20 tahun (satu penamaan para pendiri Orde Baru terhadap pemerintahan selama di bawah pimpinan Bung Karno sejak 1945 sampai 1965). Oleh karena itu, ucapan Hamzah Haz seperti yang tersebut di atas perlu dianggap serius. Bukan saja oleh keluarga Bung Karno (termasuk Megawati), melainkan juga oleh para pendukung politik Bung Karno, bahkan oleh sebagian besar rakyat. Sebab, Hamzah Haz mengatakan bahwa Orde Lama (artinya, Bung Karno) sudah menyimpang dari perjuangan. Menyimpang dari perjuangan yang mana?

Mungkin, walaupun Hamzah Haz seorang tokoh politik, ia tidak pernah - atau tidak mau! - mempelajari sejarah perjuangan Bung Karno secara baik. Padahal, sejarah sudah membuktikan bahwa Bung Karno adalah manifestasi terpusat perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Perjuangan ini telah beliau lakukan sejak muda-belia dengan gigih, konsekwen dan berani sampai 1965!. Berkat sikap perjuangan beliau yang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme inilah maka beliau menjadi sumber inspirasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Konferensi Bandung, gerakan-gerakan solidaritas Asia-Afrika yang beliau sokong, gerakan negara-negara Non-blok, adalah hanya sebagian saja dari jasa beliau dalam perjuangan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme beliau. Jadi, singkatnya, Bung Karno (Orde Lama) tidak pernah menyimpang dari perjuangan. Yang menyimpang adalah justru gerakan kontra-revolusioner para petinggi militer (TNI-AD) yang bersekongkol dengan kekuatan asing, dan telah meng-kudeta Bung Karno dan kemudian mendirikan Orde Baru.

Hamzah Haz juga mengatakan bahwa berkat Orde Barulah maka Indonesia tidak menjadi negara komunis. Supaya jelas bagi Hamzah Haz (dan juga bagi orang-orang lain yang sebangsanya) : Bung Karno bukanlah seorang komunis, dan tidak bercita-cita mendirikan negara komunis. Memang, beliau menaruh simpati kepada PKI, karena pada waktu itu PKI-lah yang merupakan pendukung utama beliau, dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno, yang seluruh hidupnya telah disumbangkan kepada perjuangan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme ini, telah digulingkan oleh para pendiri Orde Baru (yang berkomplot dengan kekuatan asing). Dan untuk menggulingkan beliau, maka PKI harus dihancurkan dulu, antara lain dengan pembunuhan besar-besaran terhadap jutaan manusia tidak bersalah dan penahanan ratusan ribu orang (yang tidak bersalah apa-apa juga) selama belasan bahkan puluhan tahun.

Jadi, kesimpulan apa yang bisa ditarik dari ucapan-ucapan Hamzah Haz ini? Bisa macam-macam. Antara lain, yalah bahwa kita semua perlu mewaspadai, secara cermat pula, segala tingkah-laku politiknya. Sebab ia adalah agen terselubung Orde Baru, yang walaupun menjabat sebagai wakil-presiden, dan “resminya” bertugas membantu pekerjaan presiden Megawati, tetapi mempunyai agenda-agenda politik tersendiri (yang terselubung juga). Bersama-sama dengan komplotannya, ia bisa menjalankan berbagai permainan “menggunting dalam lipatan”. Mungkin, tidak lama lagi (!), akan muncul bukti-bukti lainnya lagi, yang menyatakan bahwa ia adalah reformis gadungan dan, karenanya, ia juga akhirnya akan bentrokan dengan kubu Megawati, baik dalam kabinet, di DPR, maupun dalam masyarakat.

Kesimpulan lainnya : karena “ajakan” Hamzah Haz adalah bertentangan dengan aspirasi rakyat dan nalar sehat, maka adalah benar, sah, dan juga luhur, kalau seluruh kekuatan pro-reformasi terus-menerus melakukan perlawanan terhadap fikiran Hamzah Haz ini, yang secara politik adalah salah dan secara moral juga rendah.